Anak-Anak Bangsa

Buku yang hadir di hadapan pembaca ini adalah buku yang didedikasikan untuk anak-anak Indonesia. Ide awalnya adalah keinginan untuk memberikan gambaran yang agak lengkap tentang potret anak Indonesia kontemporer. Sehingga siapapun dapat menggunakan buku ini untuk mengetahui atau memperdalam pengetahuannya tentang anak-anak Indonesia.

Walaupun belum sempurna, buku ini cukup memberikan gambaran tentang kondisi anak-anak Indonesia. Mulai dari pemaparan awal kelahiran hingga lahir dan memasuki remaja di dalam balutan budaya lingkungannya. Hingga peran negara dalam melindungi hak anak dan menyediakan kesejahteraan bagi anak-anak Indonesia.

Potret anak kurang beruntung dibahas pula dalam buku ini. Data tentang kesehatan, pendidikan, perlindungan, kesejahteraan, dan lainnya diungkap dengan gamblang. Juga catatan-catatan emas prestasi siswa-siswa berbakat tidak kami tinggalkan. Siswa berprestasi akademik luar biasa, anak-anak berbakat di bidang olahraga, juga mereka yang memiliki minat yang tinggi di bidang kesenian dan budaya diungkap tuntas. Ini memberikan gambaran yang cukup bahwa anak Indonesia adalah anak berpotensi yang tidak kalah dengan anak di belahan negara lain. Tentunya semua ini menjadi potret menyeluruh sehingga sudut pandang kita terhadap dunia anak lebih lebar.

Data-data dan kronologis perlakuan terhadap anak juga kami paparkan. Sehingga fase perkembangan dapat dilihat dan dinilai progresifitasnya. Indikator progresifitas, oleh penulis, dilihat dari produk undang-undang dan peraturan pemerintah yang dikeluarkan. Juga dilihat dari angka-angka statistic yang muncul di masyarakat.

Untuk melengkapi khazanah pengetahuan kita, kami mengundang pakar-pakar di bidangnya untuk membincangkan persoalan anak. Sehingga pembaca akan lebih mudah mengenali dan memahami pertumbuhan dan perkembangan anak-anaknya. Untuk itu kami ingin sampaikan terima kasih kepada para penulis, antara lain Kak Seto, Ratna Megawangi, Neno Warisman dan lainnya yang telah rela meluangkan waktunya.

Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada Ibu Hj. Ani Yudhoyono yang telah berkenan memberikan kalimat pesan untuk anak-anak Indonesia dan pesan untuk orang tua dan anak. Semoga pesan ini dapat diresapi oleh seluruh anak-anak, orang tua, dan masyarakat Indonesia. Terima kasih juga kami sampaikan kepada bapak Aburizal Bakrie dan Bapak Adhyaksa Dault yang telah memberikan kata sambutan dan mendukung penyusunan buku ini.

Kepada seluruh panitia peringatan HAN 2007 kami ucapkan banyak terima kasih dan penghargaan atas dukungannya selama penyusunan hingga terbitnya buku ini. Semoga apa yang kita lakukan dapat menjadi kampanye efektif untuk menyadarkan bahwa anak adalah masa depan. Sebagai tunas, potensi, dan generasi muda mereka adalah penerus cita-cita perjuangan bangsa dan calon pemimpin bangsa dan negara di masa depan. Perlakuan dan kondisi yang mereka terima hari ini akan memiliki efek di masa depan. Maka kesadaran bahwa ”Masa Depan Anak Masa Depan Bangsa sedikit banyak akan membuat kita memperlakukan dan memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita, Anak-anak Indonesia. Semoga buku ini bermanfaat bagi terwujudnya generasi baru Indonesia yang unggul.

Akhirnya, kami mengajak seluruh pembaca untuk meluangkan waktu membaca buku ini hingga selesai. Semoga kita mendapatkan sesuatu yang baru.

Selamat Membaca.

Tim Penulis,

Dwi Agus Susilo, dkk

Catatan 80 Tokoh Nasional

Anda Ingin tahu tentang Indonesia? Bacalah buku berjudul Menapaki Perjalanan Sebuah Bangsa: Catatan 80 Tokoh Nasional” yang disusun oleh Dwi Agus Susilo, dkk dan diterbitkan oleh Penerbit Lembaga Jangka Indonesia (IKAPI).

TentangKu

Dwi Agus Susilo, S.Kom., M.Si

Anak kedua pasangan H. Sunardi dan Hj. Siti Djuwariyah ini lahir saat hari menjelang fajar di Semarang pada tanggal 20 Agustus 1974. Menurut ibunya, mungkin waktu kelahiran inilah yang menjadikan anak laki-lakinya memiliki keberanian. Seperti Bung Karno yang dijuluki “Putra Sang Fajar” begitulah anak yang lahir menjelang fajar menjadi pertanda munculnya harapan baru.
Harapan orang tua kepadanya adalah menjadi anak yang bisa mikul dhuwur mendem jero (mengangkat derajat keluarga dan menutup kekurangan keluarga). Ayahnya yang wirausahawan mengajarinya untuk gemi, setiti, lan ati-ati (suka menabung, hemat/cermat, dan hati-hati/waspada) sedangkan ibunya mendidiknya untuk rendah hati dan selalu dekat kepada Tuhan. Dari orang tuanyalah pendidikan agama sejak dini ditanamkan.

Sebagai anak kedua dari tujuh bersaudara, sejak kecil sudah dibiasakan mandiri. Tak heran jika saat mendaftar di SMP dan SLTA pun dilakukan sendiri. Pendidikan dasarnya dilakukan di SDN 1 Krapyak, sekolah menengah di SMPN 1 Semarang dan STMN Pembangunan Semarang jurusan listrik tenaga. Di masa remaja inilah, melalui kelompok pecinta alam Arga Peta, kebiasaan mendaki gunung mulai digemari. Kegiatan keagamaan pun menjadi interestnya dengan menjadi anggota Ikatan Remaja Masjid Raya Baiturrahman (IKAMABA) Semarang.
Lulus dari sekolah teknik, lelaki asal kota lumpia ini mulai merasakan dunia kerja. Sebuah pabrik baja yang sedang dalam tahapan pemasangan mesin menerimanya untuk turut bekerja di bagian elektrikal untuk proses erection. Pengalaman bekerja dengan orang Jepang dan Taiwan yang disiplin dan pekerja keras membuatnya banyak belajar mengenai budaya kerja unggul.
Saat kuliah di jurusan Teknik Informatika STMIK Dian Nuswantoro (sekarang Universitas Dian Nuswantoro) pun tidak mengurangi tekadnya untuk bekerja membiaya kuliah. Walau orang tuanya memberinya uang kuliah tetapi keinginan untuk mandiri menjadikannya ingin mencari uang sendiri. Meski begitu, aktivisme di kampus malah menambah kesibukan di sela kuliah dan kerja. Sempat menjadi Ketua HMJ Teknik Informatika dan Ketua Umum Badan Perwakilan Mahasiswa menjadikannya banyak berdiskusi dengan pimpinan kampus. Organisasi ekstra kampus HMI menariknya untuk berkiprah di dunia kemahasiswaan, kepemudaan, dan keumatan. Saat gerakan reformasi mendera, mantan pengurus HMI Cabang Semarang ini juga terlibat dalam diskusi dan penggalangan demonstrasi mahasiswa di Semarang tahun 1998. Ketika pemilu demokratis 1999 digelar, turut serta dalam pemantauan pemilu bersama UNFREL (University Network for Free dan Fair Election) sebagai Ketua Rayon Semarang yang mengkoordinasi pemantauan pemilu dan pelatihan relawan di Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Salatiga, Demak, Kendal, dan Purwodadi.
Setelah memperoleh gelar sarjana sempat mengajar di almamaternya sambil menggarap lembaga swadaya yang dibentuk bersama kawan-kawan mahasiswa Semarang. Tahun 2000 menjadi pimpinan proyek pengentasan pengangguran di salah satu proyek PKPW (Prakarsa Khusus Penganggur Perempuan) Dinas PU di Kecamatan Gunung Pati, Semarang. Pekerjaan sebagai staf monitoring dan evaluasi juga pernah dilakukan pada program Operasi Pasar Swadaya Masyarakat (OPSM) di wilayah Jabodetabek yang di biayai World Food Program (WFP), sebuah lembaga PBB yang menangani bantuan makanan.
Dunia aktivisme juga terus digeluti dengan aktif pada kepengurusan PB HMI periode 1999-2002 dan DPP KNPI periode 2002-2005. Selama 2003-2005 menjadi asisten anggota KPU Provinsi DKI Jakarta menangani berbagai pekerjaan teknis pemilu. Pada akhir 2004, Sekretaris Jenderal PP MASIKA-ICMI ini diajak untuk membantu Tim Setiabudi. Tim yang membantu Menpora, Adhyaksa Dault, menyusun tugas dan fungsi kementerian yang baru terbentuk setelah dilikuidasi di masa pemerintahan sebelumnya. Sejak itulah magister sains dari Departemen Ilmu Komputer Sekolah Pascasarjana IPB, Bogor ini menjadi tim asistensi di Kemenegpora.
Di kantor yang mengurusi kepemudaan ini, penulis dan editor beberapa buku seperti Otonomi Daerah dan Kompetensi Lokal (2003), Menolak Kembalinya Sentralisasi (2004), Dinamika Politik & Strategi Pemenangan Pemilu (2005), Masa Depan Anak Masa Depan Bangsa (2007), Peran Pemuda dalam Ketahanan Nasional (2008) banyak melakukan asistensi program-program pemberdayaan dan pengembangan kepemimpinan pemuda serta penelitian-penelitian yang dilakukan staf ahli terkait bidang kewirausahaan pemuda; pemuda dan ketenagakerjaan; kewiraaan dan nasionalisme, dan penyalahgunaan narkoba.
Ayah dari Putrizuhra Queena A. juga mengelola Buletin Kemenegpora dan Majalah Gerbang Pemuda. Sebagai pemuda ia masih memiliki banyak cita dan harapan, salah satu keinginannya adalah membesarkan lembaga yang didirikan bersama kawan-kawan, yaitu Candidate Center dan Lembaga Jangka Indonesia.
Profil singkat suami dari EN Ningrum ini dapat dilihat di http://agussemarang.multiply.com dan komunikasi bisa dilakukan melalui alamat email dwiasus@yahoo.com.

Perjalanan Bangsa

Sebagai sebuah bangsa, perjalanan bangsa Indonesia belumlah lama. Jika mengacu pada titik awal munculnya bibit-bibit rasa kebangsaan maka tunas kebangsaan Indonesia bisa dilacak sejak awal abad ke-20.
Seluruh benua Asia dan Afrika pada permulaan Abad XX menginjak zaman modern yang membawa angin baru, sehingga timbul kata-kata Renaissance (kebangkitan kembali) dari benua Asia. Kemenangan Jepang dari Asia yang gilang gemilang terhadap Tsar Rusia dari Barat (1905) telah mengembalikan secara menanjak kepercayaan bangsa-bangsa Asia (Timur) pada kemampuan diri sendiri (Soenario, 2006).

Baca lebih lanjut

Sejarah MASIKA-ICMI

Majelis Sinergi Kalam, disingkat MASIKA adalah salah satu organ dari organisasi Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI). ICMI didirikan pada tanggal 6 Desember 1990 dalam sebuah Simposium Nasional Cendekiawan Muslim yang kemudian dilanjutkan dengan Muktamar I ICMI, khusus pembentukan dan pendeklarasian pendirian ICMI di Kampus Universitas Brawijaya, malang Jawa Timur. Sedangkan MASIKA ICMI secara resmi dilahirkan 3 tahun kemudian tepatnya pada tanggal 8 Oktober 1993 di Cisarua Kawasan Puncak Bogor Jawa Barat. Lahirnya MASIKA melalui sebuah acara Pertemuan Nasional (PERNAS) I “Majelis Sinergi Kalam” yang di gelar ICMI Pusat dibawah arahan dan koordinasi Ibu DR. Marwah Daud Ibrahim, dkk. Pernas MASIKA I tersebut berlangsung selama 3 hari, tanggal 8-10 Oktober 1993 di Hotel Ever Green Puncak Bogor Jawa Barat dengan tema Pernas adalah “Membangun Tradisi Kecendekiawanan Kaum Muda”. Sebelum Pernas I dilangsungkan sebenarnya forum-forum MASIKA di beberapa daerah dan wilayah sudah ada dan telah aktif melakukan kajian-kajian dan kegiatan pengabdian pada masyarakat, sebut saja diantaranya di Makasar, Bogor, Surabaya, Jakarta dan kota-kota lainnya. Untuk mensinergikan forum-forum tersebut secara nasional. Dipandang perlu dibentuk wadah dan didirikanlah MASIKA Pusat.

Baca lebih lanjut

Reaktualisasi Peran Pelajar dan Santri Dalam Pembangunan Bangsa

masika-icmi

Permasalahan bangsa dan negara kita saat ini tidaklah sedikit. Meminjam istilah Alvin Toeffler, belum genap Bangsa Indonesia melewati gelombang I, abad pertanian kita sudah memasuki abad industrialisasi. Dan ketika kita sedang menyiapkan infrastruktur industri tiba-tiba gelombang ketiga yaitu abad informasi telah tiba. Sehingga bangsa kita mengalami perbenturan tiga gelombang sekaligus. Hal ini menyebabkan krisis yang nampak dalam bentuk gejala-gejala sosial-budaya yang negatif seperti dislokasi, deprivasi, pencabutan akar budaya (cultural uprooting), dan lain-lain.

[1] Baca lebih lanjut

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!