Perjalanan Bangsa

Sebagai sebuah bangsa, perjalanan bangsa Indonesia belumlah lama. Jika mengacu pada titik awal munculnya bibit-bibit rasa kebangsaan maka tunas kebangsaan Indonesia bisa dilacak sejak awal abad ke-20.
Seluruh benua Asia dan Afrika pada permulaan Abad XX menginjak zaman modern yang membawa angin baru, sehingga timbul kata-kata Renaissance (kebangkitan kembali) dari benua Asia. Kemenangan Jepang dari Asia yang gilang gemilang terhadap Tsar Rusia dari Barat (1905) telah mengembalikan secara menanjak kepercayaan bangsa-bangsa Asia (Timur) pada kemampuan diri sendiri (Soenario, 2006).


Angin nasionalisme berhembus hingga ke Nusantara. Suburnya nasionalisme adalah akibat dari imperialisme dan kolonialisme Barat. Kemauan untuk hidup bersama dalam dalam sebuah bangsa (le desir de vivre le ensemble) dan keinginan untuk menentukan nasib sendiri mendorong munculnya gerakan-gerakan rakyat.
Tahun 1908 lahir pergerakan rakyat terorganisasai modern bernama Budi Utomo. Mula-mula bersifat kedaerahan, dasarnya adalah keturunan sama (commmon descent), adat istiadat sama (common tradition), bahasa sama (common language), dan agama sama (common religion). Fase berikutnya dari pertumbuhan itu adalah a common effort in a fight for political rights for individual liberty and tolerance (suatu usaha bersama dalam perjuangan untuk hak-hak politik, untuk kemerdekaan peribadi dan menghormati orang lain). Perjuangan itu kemudian diikat oleh suatu cita-cita dan suatu kemauan untuk bersatu (Sophiaan, 2006).
Nasionalisme lalu menjadi suatu state of mind, atau prinsip rohani, dimana kesetiaan dari individu diabdikan kepada negara. Hingga tahun 20-an pergerakan nasional telah berjiwa “Kebangsaan Indonesia” yang memuncak pada pertemuan Kongres Pemuda II tanggal 27-28 Oktober 1928.
Para pemuda dari berbagai perkumpulan pergerakan pemuda seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Bataks Bond, Jong Islameten Bond (JIB), Jong Celebes, Jong Ambon, Pemuda Kaum Betawi, Pemuda Indonesia, dan Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) membentuk panitia Kongres Pemuda II. Kongres ini bermaksud untuk menguatkan perasaan persatuan dan kebangsaan yang di masa itu telah hidup di dalam hati tiap-tiap pemuda Indonesia. Tak heran bila di dalam kongres kata-kata “kemerdekaan” sempat muncul.
Kerapatan pemuda-pemuda Indonesia ini mengambil keputusan untuk mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Air Indonesia; mengaku berbangsa satu, Bangsa Indonesia, dan menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia. Sumpah Pemuda ini menjadi tonggak persatuan Indonesia di bumi Nusantara. Sumpah Pemuda menjadi tempat dasar yang tiga dan tujuan yang satu bagi rakyat Indonesia.
Nasionalisme Indonesia berbeda dengan nasionalisme Barat. Nasionalisme Barat bangkit dari reaksi masyarakat yang merasakan ketidaknyamanan budaya terhadap perubahan-perubahan yang terjadi akibat kapitalisme dan industrialisme. Namun, mereka beruntung karena budaya mereka memungkinkan mereka menciptakan sebuah kondisi yang dapat mengakomodasi standar-standar modernitas.
Sebaliknya, Nasionalisme Kebangsaan Indonesia adalah kuliminasi inspirasi kemerdekaan yang bersandar pada akumulasi pengalaman penjajahan (kolonisasi) Eropa. Apa yang diperjuangkan rakyat Indonesia dulu adalah kemerdekaan diri, kedaulatan dirinya di tengah-tengah bangsa-bangsa di dunia. Nasionalisme adalah motif dan pembenaran atas Revolusi Indonesia. Kemerdekaanlah yang menjadi tujuannya. Merdeka dari segala bentuk penindasan. Nasionalisme adalah faktor pendorong Kemerdekaan untuk membentuk masyarakat Indonesia yang sejahtera, adil, dan makmur.
Nasionalisme perlu terus dirawat dengan memberikan makna. Jika dahulu nasionalisme berfungsi sebagai pemersatu dan pendorong kemerdekaan maka saat ini harus dapat menjadi semangat untuk memelihara persatuan dan kesatuan bangsa serta memumpuk solidaritas dalam mewujudkan keadilan, kemakmuran, dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Walaupun ada yang menyatakan di jaman globalisasi seperti saat ini nasionalisme sudah sudah gagal dalam menumbuhkan semangat untuk membela negara (Jalaludin Rakhmat, 2007). Seperti diketahui, nasionalisme muncul sebagai antitesis terhadap imperialisme dan kolonialisme. Kapan saja kolonialisme datang maka nasionalisme akan muncul. Tetapi menurut Harry Tjan Silalahi (2008) nasionalisme masih tetap dibutuhkan, katanya, “Solidaritas Kebangsaan memberi banyak inspirasi dan jalan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan akut sosial, politik dan ekonomi yang sedang kita hadapi saat ini dan mungkin juga di saat mendatang. Lebih dari itu, Solidaritas Kebangsaan juga pada dasarnya memberikan jawaban atas kerisauan banyak orang karena tekanan-tekanan globalisme.
Meski begitu Soekarno mengingatkan bahwa nasionalisme kita bukanlah nasionalisme borjuis atau nasionalisme keningratan. Nasionalisme borjuis bukanlah nasionalisme kemanusiaan, bukan nasionalisme yang ingin keselamatan massa, yang paling jauh hanya ingin Indonesia Merdeka saja dan tidak mau mengubah susunan masyarakat sesudah Indonesia Merdeka. Begitu pun nasionalisme keningratan, menurut cita-citanya, dalam Indonesia Merdeka itu merekalah yang harus menjadi “kepala” merekalah yang tetap harus menjadi kaum yang memerintah. Sosio-nasionalisme yaitu kerakyatan tulen dimana tercipta satu kerukunan rakyat, satu pekerjaan bersama daripada rakyat, satu kesamarasaan dan kesamarataan rakyat, (Bung Karno, Mencapai Indonesia Merdeka, 2001).
Pemerintah haruslah menebar-nebarkan benih kesamarataan sama-rasa di dalam kalbu rakyat, menebar-nebarkan pula benih gotong-royong di dalam hatinya rakyat sehingga rakyat mementingkan keselamatan umum (Bung Karno, 2001).
Nasionalisme harus bersifat tidak antagonis terhadap fakta multi-etnik, multi-kultur, multi-agama, multi-lingual. Hal ini dipertegas oleh Bung Karno dalam pidato ”Lahirnya Pancasila” dengan mengatakan, ”Sila Ke-Bangsaan mengandung unsur kuat Kemanusiaan yang adil dan beradab. Oleh karenanya tidak akan mungkin meluncur ke arah chauvinisme dan menentang pikiran-pikiran rasialisme.” Dengan demikian, Nasionalisme Kebangsaan Indonesia membuka pintu bagi siapa saja untuk berpartisipasi membangun negara Republik Indonesia tanpa prejudice rasialis, etnis, agama dan orientasi politik.
Tetapi nasionalisme juga harus dijaga agar tidak berubah menjadi ”fanatisme fasistis”. nasionalisme juga sering kali ”disalahgunakan” sebagai landasan filosofis untuk memaksakan kehendak pada saat praktek ”nasionalisme” itu dipaksa berdefinisi tunggal, (Sulfikar Amir, 2004). Sehingga negara dapat memaksa siapapun untuk tunduk pada kepadanya tanpa penghormatan terhadap kemanusiaan. Praktek-praktek semacam ini dapat mengaburkan pemaknaan terhadap Nasionalisme dalam bahasa Albert Einstein ”nasionalisme” disebut sebagai tidak lebih dari penyakit campak bagi kemanusiaan.
Peran negara (pemerintah) sangat besar dalam menjaga kadar nasionalisme warganya. Apabila pemerintah mampu mengayomi dan memberikan kesejahteraan maka masyarakat akan mencintai bangsa dan negaranya sebaliknya bila pemerintah gagal mengelola negara dengan menjual murah kekayaan negara dan tidak memperhatikan nasib rakyat, maka mereka pasti akan alpa pada kewajibannya.
Untuk itu nasionalisme perlu terus dirawat dengan memberikan makna. Jika dahulu nasionalisme berfungsi sebagai pemersatu dan pendorong kemerdekaan maka saat ini harus dapat menjadi semangat untuk memelihara persatuan dan kesatuan bangsa serta memumpuk solidaritas dalam mewujudkan keadilan, kemakmuran, dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Nasionalisme dapat menyelamatkan pelarian aset negara ke pihak asing dan menggunakan kekayaan negara untuk kemakmuran rakyat. Nasionalisme pula yang dapat melindungi warga negara dari hinaan, cercaan, bahkan siksaan dari bangsa lain. Karena nasionalisme mengandung loyalitas terhadap tanah air dan bangsa.
Nasionalisme yang mantap memiliki daya dorong dalam pembangunan. Harga diri sebagai bangsa yang besar, yang merdeka, yang berdaulat di tanah tumpah darahnya sendiri, seharusnya diberikan tempat yang wajar, karena kesadarannya memungkinkan ia memberikan amal dan dharma bakti kepada negaranya dan bercita-cita untuk memperbaiki nasib bangsanya yang masih banyak menderita, (Hardi, 1983).
Sesuai cita-cita proklamasi kemerdekaan yaitu mewujudkan pemerintahan yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial dalam bingkai Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujdukan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Latar belakang inilah yang mendorong penyusun untuk merumuskan sebuah buku yang berisi tentang sisi-sisi kehidupan kebangsaan dan kenegaraan kita. Sebuah buku yang dapat menjadi rujukan bagi siapa saja yang berminat mengetahui, memahamai, dan mempelajari tentang keindonesiaan. Khususnya bagi generasi muda yang memiliki minat untuk memperbaiki kehidupan berbangsa dan bernegara di masa depan.
Sebuah buku yang mampu membahas seluruh bidang kehidupan secara komprehensif dan holistik yang ditulis oleh para tokoh-tokoh nasional. Kualifikasi tokoh nasional ini adalah orang-orang yang secara nasional telah dikenal masyarakat dan memiliki rekam jejak yang baik. Dimana mereka memiliki visi kebangsaan dan kenegaraan yang kuat; memiliki pemikiran yang brilian; menjadi panutan masyarakat atau memiliki pengikut yang banyak; Memiliki capaian prestasi yang tinggi; menjadi pencetus atau pioneer di bidangnya; atau menjadi legenda yang melekat di hati rakyat.
Toh begitu, pilihan tokoh ini bukan berarti dipilih atas dasar ketokohannya semata tetapi mengacu pada ide dasar dimana buku ini ingin membahas secara lengkap berbagai persoalan kebangsaan dan kenegaraan maka yang pertama kali dilakukan adalah menentukan bidang dan tema tulisan. Dari kebutuhan inilah maka dipilih tokoh-tokoh yang memang memiliki kecocokan dengan bidang dan tema yang kita butuhkan. Hal ini untuk menghindari persepsi keterpilihan tokoh yang ada dalam buku ini subjektif. Karena kita menyadari bahwa di tanah air ini banyak sekali tokoh-tokoh nasional tetapi belum tentu tepat untuk semua tema yang kita butuhkan.
Adapun tema-tema utama dalam buku ini adalah Membangun Bangsa dan Negara; Menata Demokrasi Yang Adil dan Menyejahterakan; Menyusun Kekuatan Ekonomi Lokal; Menegakkan Hukum dan HAM; Menjaga Integrasi Bangsa; Satu dalam Keragaman, Beragam dalam Kesatuan; Membangun Keunggulan Manusia Indonesia; dan Menegaskan Karakter Timur.
Selain kecocokan kepakaran atas tema yang dibutuhkan pemilihan tokoh juga memperhatikan faktor keragaman yang niscaya dalam bangsa kita. Sehingga pilihan tua-muda, pria-wanita, etnis, dan agama menjadi masuk dalam pertimbangan pemilihan tokoh.
Untuk mendapatkan buah pikiran para tokoh kami menggunakan metode wawancara dan permintaan tulisan. Prosentase antara tulisan yang dibuat sendiri dan wawancara berbanding 6,5:1. Wawancara dilakukan atas permintaan tokoh yang karena kesibukannya tidak sempat untuk menulis artikel sendiri. Tulisan hasil wawancara kita narasikan agar enak dibaca dan agar otentisitas terjaga kami juga mencantumkan tanggal wawancaranya.
Akhirnya dengan kerja yang marathon hampir sepuluh bulan kami berhasil mengumpulkan 80 tulisan dari 80 tokoh nasional ditambah prolog dari Presiden RI Dr. Susilo Bambang Yudhoyono dan epilog dari Prof. BJ Habibie. Untuk itu kami mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada para tokoh semoga keikhlasan atas sumbangan pemikiran ini mendapat balasan dari Tuhan dan mendapat apresiasi dari masyarakat luas.
Tak lupa dalam kesempatan ini, kami atas nama tim penyusun juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu suksesnya penyusunan buku ini hingga hadir di hadapan sidang pembaca. Khususnya kepada Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Dr. Adhyaksa Dault, Deputi Bidang Pengembangan Kepemimpinan Pemuda Dr. M. Budi Setiawan, Asdep Fasilitator Kepemimpinan Pemuda Drs. Zulkifli Akbar, Drs. Karsono, MM, Dra. Lies Setyowati, Drs. Budiyanto, Staf Khusus Bidang Kepemudaan Rafli Effendy, dan Asdep SPK Drs. Noer Eddy Budiono, MM., Asdep PK Drs. Erlangga Masdiana, M.Si., Asdep Pemberdayaan LKP Drs. Bambang Trijoko, MM., MH. Kepada keluarga tim penyusun berterima kasih atas pengertiannya yang merelakan waktu tim penyusun untuk “mengejar” para tokoh.
Tak ada gading yang tak retak, begitulah sunatullah. Walaupun kami sudah berusaha semaksimal mungkin agar buku ini hadir sempurna tapi kami menyadari masih banyak sekali kekurangan dan kesalahan yang terjadi. Untuk itu kami menerima kritik dan saran demi perbaikan buku ini ke depan.
Semoga buku ini dapat bermanfaat dan saya berharap pembaca dapat menikmati buku ini hingga halaman terkahir.

Jakarta, Oktober 2008

Dwi Agus Susilo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: