TentangKu

Dwi Agus Susilo, S.Kom., M.Si

Anak kedua pasangan H. Sunardi dan Hj. Siti Djuwariyah ini lahir saat hari menjelang fajar di Semarang pada tanggal 20 Agustus 1974. Menurut ibunya, mungkin waktu kelahiran inilah yang menjadikan anak laki-lakinya memiliki keberanian. Seperti Bung Karno yang dijuluki “Putra Sang Fajar” begitulah anak yang lahir menjelang fajar menjadi pertanda munculnya harapan baru.
Harapan orang tua kepadanya adalah menjadi anak yang bisa mikul dhuwur mendem jero (mengangkat derajat keluarga dan menutup kekurangan keluarga). Ayahnya yang wirausahawan mengajarinya untuk gemi, setiti, lan ati-ati (suka menabung, hemat/cermat, dan hati-hati/waspada) sedangkan ibunya mendidiknya untuk rendah hati dan selalu dekat kepada Tuhan. Dari orang tuanyalah pendidikan agama sejak dini ditanamkan.

Sebagai anak kedua dari tujuh bersaudara, sejak kecil sudah dibiasakan mandiri. Tak heran jika saat mendaftar di SMP dan SLTA pun dilakukan sendiri. Pendidikan dasarnya dilakukan di SDN 1 Krapyak, sekolah menengah di SMPN 1 Semarang dan STMN Pembangunan Semarang jurusan listrik tenaga. Di masa remaja inilah, melalui kelompok pecinta alam Arga Peta, kebiasaan mendaki gunung mulai digemari. Kegiatan keagamaan pun menjadi interestnya dengan menjadi anggota Ikatan Remaja Masjid Raya Baiturrahman (IKAMABA) Semarang.
Lulus dari sekolah teknik, lelaki asal kota lumpia ini mulai merasakan dunia kerja. Sebuah pabrik baja yang sedang dalam tahapan pemasangan mesin menerimanya untuk turut bekerja di bagian elektrikal untuk proses erection. Pengalaman bekerja dengan orang Jepang dan Taiwan yang disiplin dan pekerja keras membuatnya banyak belajar mengenai budaya kerja unggul.
Saat kuliah di jurusan Teknik Informatika STMIK Dian Nuswantoro (sekarang Universitas Dian Nuswantoro) pun tidak mengurangi tekadnya untuk bekerja membiaya kuliah. Walau orang tuanya memberinya uang kuliah tetapi keinginan untuk mandiri menjadikannya ingin mencari uang sendiri. Meski begitu, aktivisme di kampus malah menambah kesibukan di sela kuliah dan kerja. Sempat menjadi Ketua HMJ Teknik Informatika dan Ketua Umum Badan Perwakilan Mahasiswa menjadikannya banyak berdiskusi dengan pimpinan kampus. Organisasi ekstra kampus HMI menariknya untuk berkiprah di dunia kemahasiswaan, kepemudaan, dan keumatan. Saat gerakan reformasi mendera, mantan pengurus HMI Cabang Semarang ini juga terlibat dalam diskusi dan penggalangan demonstrasi mahasiswa di Semarang tahun 1998. Ketika pemilu demokratis 1999 digelar, turut serta dalam pemantauan pemilu bersama UNFREL (University Network for Free dan Fair Election) sebagai Ketua Rayon Semarang yang mengkoordinasi pemantauan pemilu dan pelatihan relawan di Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Salatiga, Demak, Kendal, dan Purwodadi.
Setelah memperoleh gelar sarjana sempat mengajar di almamaternya sambil menggarap lembaga swadaya yang dibentuk bersama kawan-kawan mahasiswa Semarang. Tahun 2000 menjadi pimpinan proyek pengentasan pengangguran di salah satu proyek PKPW (Prakarsa Khusus Penganggur Perempuan) Dinas PU di Kecamatan Gunung Pati, Semarang. Pekerjaan sebagai staf monitoring dan evaluasi juga pernah dilakukan pada program Operasi Pasar Swadaya Masyarakat (OPSM) di wilayah Jabodetabek yang di biayai World Food Program (WFP), sebuah lembaga PBB yang menangani bantuan makanan.
Dunia aktivisme juga terus digeluti dengan aktif pada kepengurusan PB HMI periode 1999-2002 dan DPP KNPI periode 2002-2005. Selama 2003-2005 menjadi asisten anggota KPU Provinsi DKI Jakarta menangani berbagai pekerjaan teknis pemilu. Pada akhir 2004, Sekretaris Jenderal PP MASIKA-ICMI ini diajak untuk membantu Tim Setiabudi. Tim yang membantu Menpora, Adhyaksa Dault, menyusun tugas dan fungsi kementerian yang baru terbentuk setelah dilikuidasi di masa pemerintahan sebelumnya. Sejak itulah magister sains dari Departemen Ilmu Komputer Sekolah Pascasarjana IPB, Bogor ini menjadi tim asistensi di Kemenegpora.
Di kantor yang mengurusi kepemudaan ini, penulis dan editor beberapa buku seperti Otonomi Daerah dan Kompetensi Lokal (2003), Menolak Kembalinya Sentralisasi (2004), Dinamika Politik & Strategi Pemenangan Pemilu (2005), Masa Depan Anak Masa Depan Bangsa (2007), Peran Pemuda dalam Ketahanan Nasional (2008) banyak melakukan asistensi program-program pemberdayaan dan pengembangan kepemimpinan pemuda serta penelitian-penelitian yang dilakukan staf ahli terkait bidang kewirausahaan pemuda; pemuda dan ketenagakerjaan; kewiraaan dan nasionalisme, dan penyalahgunaan narkoba.
Ayah dari Putrizuhra Queena A. juga mengelola Buletin Kemenegpora dan Majalah Gerbang Pemuda. Sebagai pemuda ia masih memiliki banyak cita dan harapan, salah satu keinginannya adalah membesarkan lembaga yang didirikan bersama kawan-kawan, yaitu Candidate Center dan Lembaga Jangka Indonesia.
Profil singkat suami dari EN Ningrum ini dapat dilihat di http://agussemarang.multiply.com dan komunikasi bisa dilakukan melalui alamat email dwiasus@yahoo.com.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: